28 september 2018
Dimulai dari pagi yang terlambat bangun, banyak
pekerjaan yang harus dilaksanakan hari ini, 3 design sepatu yang harus segera
rampung dalam waktu 2 minggu. Lalu semalam seorang datang melalui pesan
langsung, tanpa menyapa hanya bertanya. Bercurah hati berkeluh kesah tanpa
permisi, mungkin ia pikir aku tempat yang cocok untuk bertanya soal hati.
Dilanjutkan pagi yang padat, maklum namanya juga
Jakarta. Headset terpasang, roda mulai berputar, pikiran menerka telat atau
tidak, kepala memanggut terbawa suasana, ah indahnya ibu kota hari ini.
Ku naiki si abu, ku ajak pergi ketempat tujuan ku,
tempat yang nantinya akan ku kenang sepanjang hidup ku. Almamater biru menjadi
ciri khas tempat itu. Sekitar satu tahun lalu tempat ini sangat asing buat ku,
namun sekarang malah hati selalu ingin kesini tanpa peduli lagi waktu.
Pukul 08.00 wib. Ini sih telat.. ah tapi biasa saja,
anak design tak peduli soal waktu kuliah, hanya tugas rampung masalah kelar
sudah. 3 design sepatu menanti untuk dirancang sesuai imajinasi, di sini tak
sepenuhnya menggambar, aku pikir lebih banyak bermain dengan imajinasi dari
otak pribadi.
Untuk satu buah design waktu sudah berjalan hampir 4
jam, tak terasa karena di kepala hanya pikiran anak design semata,
“anjir
cocoknya warna apa sih” “bentuk nya kok aneh ya” “yang ini gimana caranya sih?”
“eh komputer gue kok ga nyala sih” “eh bego itu belom dicolokin kali” “dasar
duren!” “maap kali namanya masi pagi, kagak konsen!”
Now Playing : Maroon 5 – Girls like you.
Waktu
tak terasa, namun lapar tetap terasa karena lambung sudah minta jatahnya, lebih
baik dituruti dari pada tidak, nanti dia ngambek bisa-bisa lambung jadi perih,
kayak luka di hati. Lohh saya nulis apa sih ini?
“pulang duluan ah”
Jam
16.00 wib. Waktu yang tepat untuk pulang, mumpung Jakarta masih lenggang. Ku
lewati jalan pulang.
Rupanya tak sesuai ekspektasi, ya sudah ku nikmati,
mau gimana lagi? Masa terbang? Lelah berlama-lama di tengah macet kulihat kedai
kopi, ku singkirkan diri dari macet sejenak mencoba menghantam sedikit kopi
sambil menunggu reda kemacetan Jakarta, tapi tak terasa sudah hantaman kedua.
Jakarta tetap sama, macet tiada tara.
Anwar Pratama.
Komentar
Posting Komentar